71 Persen Gen Z Utamakan Gaji dalam Pekerjaan tapi Mayoritas Khawatir akan Masa Depan



inPUBLIKA.com | Sebagai generasi yang tumbuh di tengah perubahan sosial dan teknologi yang begitu cepat, Gen Z kini memainkan peran penting dalam membentuk tren serta dinamika baru di Indonesia. Untuk memahami pola hidup dan pandangan mereka, Jakpat melakukan survei terhadap 1.158 responden berusia 17–28 tahun.


Ketika memilih pekerjaan, 71% Gen Z tetap menempatkan gaji dan kompensasi sebagai pertimbangan utama. Namun faktor lain juga berpengaruh besar, seperti lingkungan kerja yang suportif (57%) dan peluang pengembangan karier jangka panjang (55%). 

Tidak kalah penting, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance (50%) juga menjadi prioritas mereka.


Aska Primardi, Head of Research di Jakpat, menjelaskan bahwa Gen Z Indonesia saat ini berada dalam fase produktif yang penuh tantangan. 

“Status mereka sebagai angkatan kerja baru harus berbenturan dengan stagnasi lapangan kerja formal. Meskipun pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan angka positif, ekspansi tersebut lebih banyak didorong oleh sektor padat modal yang mengandalkan otomatisasi dan teknologi tinggi dibandingkan sektor padat karya yang mampu menyerap banyak tenaga manusia.”

Tantangan terbesar yang dirasakan Gen Z ketika memasuki dunia kerja adalah kompetisi yang semakin ketat (63%). Aska menambahkan, “Akibatnya, banyak Gen Z beralih ke jalur gig economy, sebuah sistem kerja kontrak jangka pendek atau proyek lepas yang dikelola melalui platform digital. 


Dinamika ini memaksa mereka menjadi ‘manusia multi-peran’ yang harus mengelola jadwal, pendapatan yang fluktuatif, dan jaminan sosial secara mandiri, tanpa perlindungan tetap dari perusahaan konvensional.”


“Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung menutup diri, mereka sangat terbuka dalam mengakui kerentanan emosional dan memandangnya sebagai bagian integral dari kesehatan secara keseluruhan. Kesadaran ini mendorong mereka untuk lebih proaktif mencari bantuan profesional, mulai dari konseling lewat aplikasi kesehatan hingga terapi tatap muka,” jelas Aska.


Menarik dibaca Survei Tren Fintech 2024: Transaksi Digital E-Wallet, Mobile Banking hingga Paylater makin Diminati Masyarakat, Kira-kira Kenapa, Ya?

Pemicu gangguan kesehatan mental di kalangan Gen Z sebagian besar berkaitan dengan kekhawatiran akan masa depan (60%). Selain itu, ada pula faktor tekanan finansial (57%), tuntutan sosial atau ekspektasi orang lain (42%), serta rasa tidak berdaya dalam menghadapi situasi yang tidak dapat mereka kendalikan (36%).

Adapun bentuk gangguan yang paling sering dialami yaitu mood swing (62%), masalah tidur baik sulit tidur atau tidur berlebihan (50%), kecemasan berlebih (38%), dan kesulitan mengatur emosi (38%).

Menutup penjelasannya, Aska menyimpulkan bahwa Gen Z adalah generasi yang paling rentan secara ekonomi formal, namun justru paling tangguh secara emosional.


Komentar